Laman

Kamis, 22 Desember 2011

Apakah Ada Kehidupan di Enceladus

Ilmuwan NASA meneliti apakah ada kehidupan di Enceladus, bulan yang dimiliki planet Saturnus. Ilmuwan mencari kehidupan microbial di bulan yang tidak ada sinar matahari, tidak ada fotosintesis dan tidak memiliki oksigen itu.
 
Hingga pesawat Voyager melewati dekat Enceladus, di awal 1980 an hanya sedikit yang diketahui mengenai bulan kecil ini. Tapi bulan Saturnus ini diketahui memiliki air es di permukaanya. Misi Voyager menunjukkan, Enceladus hanya memiliki diameter 500 km dan memantulkan 100% sinar matahari yang menyinarinya.

Semenjak Cassini tiba di saturnus dan menyelidiki planet bercincin tersebut, ia telah berhasil mengumpulkan data dari hasil terbang lintasnya pada beberapa satelit Saturnus maupun pada Saturnus itu sendiri. 


Pesawat Cassini melakukan penerbangan dekat Enceladus pada 2005, secara lebih detail dan menunjukkan permukaan serta lingkungannya. Wahana itu menemukan banyak air di kutub selatan Enceladus selain munculnya panas yang menunjukkan Enceladus aktif secara geologi.

Tingkat tektonis yang ditemukan di Enceladus, merupakan faktor kritis evolusi kehidupan di bumi. Enceladus merupakan benda angkasa keempat di sistem tata surya, bersama dengan bumi, bulan Neptunus Triton dan Yupiter yang memiliki aktivitas volkanik.

Ada tiga ekosistem di bumi yang kemungkinan bentuk kehidupan di Enceladus. Dua kehidupan berbasiskan methanogens, yang berhubungan dengan kelompok kuno yang berhubungan dengan bakteria yang disebut archaea.

Bakteri ini mampu bertahan di lingkungan keras tanpa oksigen. Volkanik dalam di Columbia River dan Idaho Falls merupakan wilayah dengan dua ekosistem itu. Energi diambil dari reaksi kimia dari bebatuan berbeda.

Ekosistem ketiga adalah kehidupan yang didukung oleh energi yang dihasilkan radioaktif dan ditemukan di bawah tambang dalam di Afrika Selatan. Pesawat Cassini NASA menemukan bahan organik dari erupsi mirip geyser di Enceladus, saat mendekati bulan itu pada 12 Maret 2008 lalu. Sejak saat itu ilmuwan terus mengamati bulan kecil yang sangat aktif itu.

“Enceladus memiliki kehangatan, air dan bahan kimia organik yang penting untuk membuat blok kehidupan. Kami telah mempunyai resep kehidupan, tapi belum menemukan bahan akhir, tapi akan terus dicari,” kata Dennis Matson, ilmuwan di proyek Cassini NASA.

“Kejutan yang tidak terbayangkan sebelumnya bahan kimia di Enceladus, keluar dari dalam,” kata ilmuwan lain Hunter Waite.

Lebih Banyak Metana

Kehidupan bisa saja dalam bentuk metana yang menghasilkan mikroba atau gen metana yang disebut methanogens yang terkubur jauh di bawah permukaan es Greenland.

Walau tidak didesain khusus untuk mencari kehidupan, namun Cassini sangat potensial dalam mencari bukti kehidupan seperti itu dengan mempelajari kelimpahan metana dan senyawa organik berat seperti propana dan acetylena. Materi organik, molekul yang memiliki karbon termasuk metana bisa dihasilkan oleh berbagai cara. Diantaranya melalui proses abiologi dari pemecahan molekul kompleks tholins yang besar dan reaksi kimia yang membentuk karbon monoksida dan hidrogen menjadi molekul organik dengan berat yang berbeda-beda.

Sayangnya, proses abiologi ini tidak dapat diterapkan untuk pembentukan metana yang memiliki molekul organik berat. Untuk mendapatkan kondisi seperti itu, dibutuhkan proses biologi yang akan menghasilkan sejumlah besar merana dan senyawa organik berat.



Alur partikel es yang dilihat oleh Cassini pada tahun 2005 di Enceladus. Kredit : NASA
Sinyal tersembunyi 

Dengan mengambil keuntungan dari perbedaan yang ada, para peneliti mulai mencari jejak sumber senyawa organik di Bumi. Awal tahun ini, pencarian dilakukan untuk mengetahui asal usul minyak bumi dan gas bumi yang dilepaskan oleh lubang hidrothermal “Kota Yang Hilang” di dasar laut Atlantik. Diyakini bahwa studi yang mirip bisa diterapkan di Enceladus dari data yang diperoleh Cassini’s Ion and Neutral Mass Spectrometer (INMS). Dengan demikian akan dapat diketahui konsentrasi molekul yang berbeda dalam alur tersebut. Sampai saat ini, terbang lintas yang dilakukan oleh Cassini menunjukkan senyawa kimia yang membentuk alur tersebut mirip dnegan yang ada di komet.

Dari sini bisa disimpulkan kalau metana di Enceladus terbentuk sangat awal. diprediksi pembentukan metana terjadi saat berada dalam awan gas yang membentuk Tata Surya.

Misi Lanjutan

Untuk bisa memahami kondisi Enceladus, para peneliti akan kembali menggunakan bilik yang digunakan saat simulasi kondisi Titan. Di sini akan dilakukan simulasi non biologi untuk membuat metana dan molekul organik lainnya. Hasil yang didapat akan snagat berguna dalam memahami data yang dibawa Cassini.

Selain simulasi kondisi Enceladus, tahun 2009 NASA akan memilih di antara 2 ide untuk misi lanjutannya ke planet luar. Misi yang pertama akan mengirimkan orbiter ke Jupiter dan satelitnya, Europa sedang misi kedua akan mengirimkan penjejak ke Titan. misi Saturnus-TItan tentunya akan menyertakan sejumlah terbang lintas di Enceladus.


Source: New Scientist, sourceflame.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites